Masih banyak stigma yang menganggap obat generik yang harganya lebih murah tidak ampuh mengusir penyakit. Namun anggapan tersebut salah, obat generik khasiatnya sama dengan obat paten, hanya saja berbeda soal hak dan kepemilikan.
Obat generik ini diproduksi setelah masa paten suatu obat habis. Produksi obat generik juga tidak memerlukan penelitian panjang serta mengalokasikan waktu lama untuk riset.
Komposisi obat generik bisa dibeli dari produsen obat yang telah habis masa patennya. Sehingga anggapan bahwa kandungan obat generik dan obat paten berbeda itu salah. Obat generik juga terdaftar di Badan POM, sehingga terjamin kualitasnya.
Salah satu alasan obat generik lebih murah adalah karena masuk dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sehingga permintaannya pun meningkat. Jika obat paten hanya diproduksi lima ratus, obat generik bisa diproduksi hingga lima ribu dalam satu kali proses.
Proses produksi masal ini tentu dapat menekan biaya produksi, sebab harga bahan baku yang dibeli dalam jumlah besar menjadi lebih rendah.
Sedangkan perusahaan farmasi pemegang paten memang mengalokasikan investasi yang teramat mahal untuk menciptakan sebuah obat. Alexion Pharmaceuticals, produsen obat untuk penyakit darah langka, dengan nama Soliris, harus menginvestasikan dana senilai US$ 800 juta atau sekitar Rp 7,73 triliun dan masa penelitian selama 15 tahun.
Hal ini membuat harga Soliris dinobatkan Forbes sebagai obat termahal di dunia, sebab dihargai US$ 409.500 atau sekitar Rp 4 miliar per tahun. Obat ini digunakan untuk mengobati hemoglobinuria nokturnal paroksismal, penyakit darah langka yang mempengaruhi 8.000 orang di AS.
Sebagai informasi, obat paten merupakan obat baru yang pertama kali diproduksi dan dipasarkan lalu dipatenkan oleh perusahaan farmasi. Seperti yang diketahui, untuk mendapatkan hak paten ini biaya penelitian dan pengembangan obat tidak mudah dan tidak murah.
Biaya penelitian dan pengembangan dengan angka yang fantastis tersebut digunakan tak hanya untuk mendapatkan komposisi obat yang pas, tapi juga untuk mendanai analisa hingga uji cobanya.
Ada 2 macam obat generik. Pertama Obat Generik Berlogo (OGB), yaitu obat yang penamaannya disesuaikan dengan zat aktif yang dikandung. Misalnya, obat antibiotik amoksisilin dijual dengan nama “Amoksisilin". Kemudian Obat Generik Bermerek disesuaikan dengan keinginan produsen farmasi. Contohnya perusahaaan AX mengeluarkan obat amoksisilin dengan nama “Amoksisilin AX”.
Kedua obat generik ini memiliki kandungan zat aktif dan efektivitas yang sama. Perbedaannya hanya pada kemasan. OGB menggunakan kemasan sederhana dan pada obat generik bermerek menggunakan kemasan sesuai keinginan produsen.
Perbedaan lain terdapat pada zat pelarut obat dan beberapa zat tambahan. Pada beberapa jenis obat generik bermerek, sering ditambahkan zat untuk mengurangi bau kurang sedap dari obat.
Wajar jika obat generik bermerek memiliki harga yang relatif lebih mahal dari OGB, namun lebih murah dari obat paten. Dibutuhkan biaya tambahan untuk kemasan, zat tambahan, dan promosi oleh perusahaan farmasi tersebut untuk menjual produknya.
Referensi :
- https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3089975/kenapa-harga-obat-generik-bisa-murah











