Selain itu menurut Menkes, agar hasil penelitian berdaya guna dan berhasil guna, kolaborasi antara peneliti dan industri, pemegang program juga pelaku pelayanan kesehatan sangat krusial. "Dengan kolaborasi antara penghasil dan pengguna, diharapkan hasil-hasil penelitian akan lebih banyak dimanfaatkan," kata Menkes di sela-sela Simposium Internasional Ke-2 Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di Balai Kartini Jakarta, Selasa (15/9).

Menurutnya, dalam penelitian Kemkes bersama lintas sektor terkait melibatkan akademisi, pemerintah pusat maupun daerah, industri dan lapisan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian.Sejak 2012 Indonesia juga telah memulai pendekatan penelitian dan pengembangan produk yang dilakukan dalam bentuk konsorsium riset yang melibatkan akademisi, institusi penelitian milik pemerintah dan industri untuk mempercepat mendapatkan hasil yang efisien.

"Salah satu contohnya, adalah pengembangan bahan baku obat malaria Artemisinin dari tanaman Artemisia annua yang didahului dengan penelitian riset tanaman obat dan jamu. Untuk 2 juta kasus malaria di Indonesia diperlukan obat Artemisinin sebanyak 900 kg yang dihasilkan dari 450 ton simplisia kering dan diperoleh dari 100 hektar tanaman Artemisia annua," ujarnya.

Saat ini lanjutnya, obat Artemisinin untuk pengendalian malaria di Indonesia masih impor karena itu Kemkes tengah melakukan terobosan untuk kemandirian penyedian Artemisinin.

Dikemukakan, untuk mendapatkan produk informasi dan inovasi yang valid dan terpercaya sebelumnya harus melalui penelitian dan pengembangan kesehatan yang terjaga mutunya secara ilmiah maupun etik. Produk informasi dan inovasi ini juga sangat berguna untuk pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence based policy).

Beberapa penyakit telah diamanahkan secara global untuk dikendalikan seperti TB, Malaria, HIV dalam post MDGs 2015, di Indonesia sendiri di 2013 lalu teridentifikasi 23 penyakit yang berpotensi wabah yang didalam daftar tersebut terdapat juga penyakit yang harus ditangani dalam MDGs post 2015.

Sehubungan dengan itu lanjutnya,  diperlukan penelitian untuk meneliti dan mengembangkan produk untuk deteksi. (Diagnostik),  pencegahan (vaksin), penyembuhan (obat) dan alat kesehatan untuk mengatasi penyakit tersebut.

"Penelitian tidak boleh stop begitu saja karena banyak sumberdaya alam yang bisa dijadikan produk dan bermanfaat untuk kesehatan, Kemkes meletakkan anggaran untuk penelitian dan pengembangan kesehatan tersendiri, karena APBN naik lima persen maka anggaran penelitian akan naik dua kali lipat sehingga bisa terealisasi sampai menjadi produk yang berguna untuk masyarakat," ujarnya.